ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKAATUH ...

Daftar Isi My Blog

4.5.14

KHUTBAH TENTANG ISLAM DAN KERJA



ISLAM DAN KERJA
Oleh: Sonin


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛
 فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jum’at Rahimakumullah.
Alhamdulillah, kita bersyukur ke khadirat Allah SWT. yang mana atas rahmat dan izin-Nya jualah, sehingga dapatlah pada hari ini, kembali kita bersama-sama berhimpun di majelis Jum’at yang mulia ini, guna melaksanakan serangkaian ibadah Jum’at di masjid yang suci dan mulia ini.

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah.
Islam adalah agama Allah yang sangat mementingkan amal-amal manusia sebab setiap amal baik dalam agama dinilai ibadah. Istilah amal mencakup segala perbuatan manusia disegala bidang kehidupannya, seperti amal-amal lisan, perseorangan, keluarga, kelompok, masayarakat, agama dan negara.
Saudara-saudara yang insyaAllah dirahmati oleh Allah Swt.
Kita ketahui bahwa Nabi Muhammad SAW  amat menekankan fakta, bahwa pada dasarnya manusia itu diciptakan untuk bergerak, berjuang dan beramal (yakni bekerja) di bumi ini, Nabi menegaskan bahwa umat manusia adalah umat nan satu bagi masyarakat pengamal (pekerja) nan satu pula kemenangan dan kemegahan mereka lewat beramal, beramal sekali lagi beramal atau dengan istilah di Indonesia: bekerja, bekerja dan bekerja.
Nabi sampai menyatakan tentang diriya sendiri. “Wahai umatku, bekerjalah sesuai dengan kesanggupan kalian masing-masing, akupun juga bekerja.”
Ini adalah gambaran dari apa yang dilakkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kemudian jika kit amemperhatikan Riwayat Hidup Rasulullah SAW maka jelas disana beliau adalah seorang pekerja yang tidak kenal lelah. Disamping melakukan ibadah da kegiatan Dakwah Islamiyah, beliau tidak henti-hentinya bekerja, bekerja dan selama hayat dikandung badan, kelihatan dalam riwayat hidupnya, bahwa beliau terus bekerja dan terus menerus beramal.
Denga posisinya yang sangat tinggi, beliau tidak pernah nampak sebagai orang yang hanya duduk diatas saja dan melihat segala-galanya sebagai seorang pembesar saja. Beliau lain dari pada yang lain dalam posisi dan tingkah lakunya, beliau malah memerah sendiri susu kambingnya, dan mengembala sendiri kambingnya, yang jauh dari kota, beliau menambal sendiri pakaiannya, membersihkan rumah, menyapu lantai, memelihara unta, membantu sang istri dirumah.
Sebagai pekerja beliau turut pula bekerja membantu pembangunan Masjid dan bersama-sama kawan yang lain turut menggali selokan (parit( disekeliling kota Madinah, beramal bekerja dan memburuh, demikian dtegaskan, adalah sama mulianya dengan apapun yang lain. Maka baik sebagai Kepala Negara dan panglima perang, maupun sebagai Nabi dan Rasulullah beliau tiada pernah memandang rendah, apalagi menganggap hina, pekerjaaan apapun yang diperbolehkan Agama, betapapun sederhana dan rendah.
Dengan demikian Nabi SAW telah mendirkan satu Orde Sosial, dmana sang buruh pembuat jalan, penebang kayu, pencari dan memikul air, tukang sepatu dan menyapu lantai ataupun pembersih jalan, semua mereka itu tanpa kecuali diperlakukan sama dengan seorang Saudagar besar ataupun pegawai tinggi. Lebih-lebih lagi semua mereka itu adalah pula anggota-anggota Ukhuwwah Islamiyah dari Dauah Islamiyah yang untuk pertama kali didirikan Rasulullah SAW.
Allah akan memei kehormatannya, itu adalah lebih baik baginya dari pada ia harus meminta-minta.
Hadis-hadis nabi penuh dengan contoh yang menunjukkan betapa dalam Islam ummat manusia itu diangkat dalam kemuliaan dan martabatnya.
“Seoerang penyembelih hewan atau penjual daging, tukang emas, pandai besi, penjahit baju, penenun atau tukang kayu, semuanya adalah sama-sama terhormat “ (Bukhari)
Malah seorang pelayan dan tuannya ditempatkan pada tingkat yang sama, bahwa, “adalah dianjurkan kepada tuan rumahdan pelayan bersantap pada meja yang sama”.
Dalam Islam orang malah tidak bisa mengimpikan satu pekerjaan yang dipaksakan ataupun tidak diberi bayaran. Dalam Islam seorang pekerja dan majikannya dipandang sebagai dua pihak yang membuat kontrak atau perjanjian, dan masing-masing terikat oleh syarat-syarat perjanjian itu. Dalam hal ini Nabi SAW dalam salah satu haditsnya telah menegaskan, bagaimana salah seorang dari tga yang nanti bertanggung jawab berat pada Allah adalah: “Orang yang mempekerjakan seorang pelayan (dirumanya) dan memperoleh pelayanan sebagaimana dharap-harapkan dari padanya, tetapi ia kemudiantidak membayar upahnya itu sepenuhnya pula”.
Dan mengenai para pengolah tanah, Islam amatlah lapang, bermurah hati, dan memberikan posisi yang amat menguntungkan bagi mereka itu, Isam amat mendorong ummatnya supaya giat melakukan pengolahan tanah dan menanaminya dengan pohon-pohon kayu dan tumbuh-tumbuhan atau mencocokinya denga aneka macam tanaman yang berguna. Maka dikatakannya oleh Nabi SAW:
“ Tidak ada seorang Muslim yang menanam pohon atau mengolah tanah, emudian burung-burung atau manusia ataupun hewan memakan dari padanya, malainkan itu menjadi shodaqoh (yakni amal shalah atau ibadah) baginya (HR. Bukhari)”
“Barang siapa mengolah tanah yang bukan miliknya seseorang, maka dialah yang lebih berhak atasnya. (Bukhari)
Maka jika kita perhatikan riwayat hidup Rasulullah SAW dan mengikuti ayat-ayat tertentu dari Al Qur’an dan Hadits-hadits Nabi, niscaya akan kita ketahui , bahwa lama sebelum bangsa lain berteriak –teriak menyerukan “Hai kaum pekerja” ataupun “Hai kaum Buruh dunia!” Agama Islam yang enjadi pandangan hidup, tujuan hidup dan tata cara hidup dari ummat Islam sedunia, sungguh telah lebih dalu mnejdi contoh bagi kau pekerja, buruh, petani, atau karyawan-karyawan dari segala suku dan bangsa di dunia yang fana ini. Islamlah yang sanggup memberi satu keseimbangan hidup.
Semoga apa yang kami sampakan tadi dapat bermanfaat bagi kita semua, aamiin...

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

LINK TERKAIT

14.3.14

HIPOTESIS PENELITIAN



PENGAJUAN HIPOTESA

Hipotesa dikenal dengan dugaan sementara, dikatakan dugaan sementara karena dugaan tersebut mungkin benar, juga mungkin salah. Dia akan ditolak jika salah satu palsu dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya. Penolakan dan penerimaan hipotesis sangata bergantung pada hasil-sasil penyelidikan terhadap fakta-fakta yang dikumpulkan.
Hipotesis dapat dibedakan antara apa yang disebut hipotesis mayor dan hipotesis minor. Hipotesis mayor, sebagaimana tersirat dalam istilahnya sendiri adalah hipotesis induk dan menjadi sumber dari anak-anak hipotesis. Hipotesis selanjutnya adalah hipotesis minor. Hipotesis minor dijabarkan dari hipotesis mayor, sehingga harus berjalan benar dengan hipotesis induknya. Dengan begitu, tiap-tiap pengetesan terhadap suatu hipotesis minor berarti juga merupakan pengetesan sebagian dari hakekat hipotesis mayor. Barangkali dengan beberapa contoh, apa yang dimaksudbkan dengan uraian itu menjadi lebih jelas.
Gambarkanlah dengan pengetahuan-pengetahuan serta pembahasan-pembahasaan terhadap situasi-situasi dan hasil-hasil penyelidikan yang lampau, hal yang perlu dijelaskan dalam pasal pembeberan persoalan, dibuat uatu hipotesis: “Bahwa kemiskinan adalah sebab dari kejahatan”. Kita tahu bahwa jenis-jenis kejahatan bermacam-macam seperti pencurian, perampokan, pembegalan, penipuan, pelanggaran seksual, perjudian, pemalsuan, dan sebagainya. Nah, jika jenis kejahatan ada bermacam-macam, maka dapatlah disusunlah disusun berbagai anak-anak hipotesis yang khusus membuat dugaan tentang adanya hubungan anatara kemiskinan dengan jenis kejahatan yang bersangkutan.
1.       Ada hubungan positif antara derajat kemiskinan dengan besar kecilnya kejahatan pencurian.
2.       Antara kemiskinan dan kejahatan perampokan aa hubungan yang searah.
Suatu mental construk, suatu rangka berpikir harus disusun untuk memberikan petunjuk jalan pada pengetesan hipotesa hipotesis-hipotesis itu, baik hipotesis mayornya maupun hipotesis minornya. Salah satu contoh dan mental konstruk yang paling sederhana untuk mengetes hipotesis yang mengetengahkan adanya hubungan sebab akibat seperti dalam hipotesis mayor, “Bahwa kemiskinan menjadi sebab dari kejatan” adalah seperti berikut:
 Jika kemiskinan menjadi sebab dari kejahatan,
a.       Di mana ada kejatanan, disitu ada kemiskinan;
b.      Di mana tidak ada kejahatan, disitu tidak boleh ada kemiskinan;
c.       Kejahatan hanya dilakukan oleh orang-orang miskin;
d.      Kejahatan tidak dilakukan oleh orang-orang tidak miskin;
e.      Makin besar kemiskinan makin besar kejahatan yang dilakukan;
f.        Maskin kecil kemiskinan , makin kecil kejahatan;
g.       Di tempat-tempat yang makin banyak kejahatan, makin banyak kemiskinan;
h.      Di tempat-tempat makin sedikit orang-orang yang miskin makin sedikit orang yang melakukan kejahatan, dan sebagainya.

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net