Daftar Isi My Blog

4.7.14

Ceramah Singkat Ramadhan

RAMADHAN MENDIDIK KEIKLASAN

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْـمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ, وكُتِبَ عَلَيْنَا الصِّيَام اَلَّذِى هُوَ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ اْلاِسْلاَمِ, أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمِ الزِّحَامِ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى دَارِ السَّلاَم. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ وَمَصَابِيْحِ الظُّلاَمِ. أمَّا بعْدُ
Saudara-saudara yang InsyaAllah dirahmatiNya
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak kepada diri saya pribadi dan juga saudara-saudara sekalian pada umumnya, untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Alloh, dengan sebenar-benarnya takwa yaitu ikhlas menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang telah dilarang. Kemudian marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak nikmat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam QS Ibrahim: 34:
"Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya."
Kemudian saya mengajak saudara-saudara untuk senantiasa memanjatkan sholawat dan salam-sejahtera kepada teladan kita bersama Nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam.
Saudara-saudara yang InsyaAllah dirahmatiNya
Salah satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari bulan Ramadhan, di dalamnya ditempa untuk senantiasa ikhlas dalam beramal. Yang dimaksud ikhlas adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata. Ikhlas menurut Ibnul Qayyim ra. menyebutkan bahwa ikhlas, diantaranya diartikan sebagai berikut;
( الإخلاص ألا تطلب على عملك شاهداً غير الله ، ولا مجازياً سواه )
Artinya: “Ikhlas adalah kamu tidak menuntut seorang yang menyaksikan atas amalanmu selain Allah dan tidak mencari yang memberikan ganjaran atas amalanmu selain-Nya.” baca kitab Madarij As Salikin.
Kemudian ada yang mengartikannya dengan:
إفراد الله بالقصد في الطاعة.
“Menjadikan Allah satu-satunya yang dituju dalam ketaatan.”
استواء أعمال العبد في الظاهر والباطن.
“Sejajarnya amalan seorang hamba, baik secara tampak (terang-terangan) atau yang batin (tersembunyi).”
            Lantas bagaimana cara kita belajar ikhlas?
Coba perhatikan hadits berikut;
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى ». متفق عليه
“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap amalan anak Adam dilipatkan, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh lipat sampai tujuhratus kali lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kecuali puasa, karena sesuangguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku Yang akan mengganjarnya, (karena) ia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku (kata Allah Swt).” (HR. Muntapakun Alaih)
[
Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:
أن الصوم لا يقع فيه الرياء كما يقع في غيره حكاه المازري ونقله عياض عن أبي عبيد
Artinya: “Bahwa puasa tidak terjadi di dalamnya riya’ sebagaimana terjadi pada selainnya, diceritakan oleh al Maziry dan dinukilkan oleh ‘yadh dari Abu ‘Ubaid.
قال القرطبي : لما كانت الأعمال يدخلها الرياء ، والصوم لا يطلع عليه بمجرد فعله إلا الله فأضافه الله إلى نفسه ولهذا قال في الحديث : (يدع شهوته من أجلي) .
Artinya: “Berkata Al Qurthuby rahimahullah: “Ketika amalan-amalan (lain) dimasuki oleh riya’, sedangkan puasa tidak dapat dilihat dengan hanya melakukannya, kecuali Allah, maka Allah gandengkan puasa itu kepada diri-Nya, oleh sebab inilah Allah berfirman di dalam hadits: “Ia meninggalkan syahwatnya karena Aku.”
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: 
قال الحافظ: "قد يفهم من هذا الحصر التنبيه على الجهة التي بها يستحق الصائم ذلك، وهو الإخلاص الخاص به, ثم قال: "وقد يدخل الرياء بالقول كمن يصوم ثم يخبر بأنه صائم، فدخول الرياء يكون بالقول، أما بقية الأعمال فإن الرياء قد يدخلها بمجرد الفعل".
Artinya: “Terkadang dipahami dari pembatasan ini, adalah peringatan atas sisi yang di dapatkan oleh seorang yang berpuasa, yaitu ikhlas yang khususnya padanya,” 
kemudian beliau berkata: “Dan terkadang (puasa) masuk (ke dalamnya) riya’ dengan ucapan, seperti seorang yang berpuasa kemudian ia memberitahukan bahwa ia berpuasa, maka masuknya riya’ dengan ucapan, adapun sisa dari amalan-amalan lain, maka sesungguhnya riya’ terkadang masuk ke dalamnya hanya dengan melakukan.” Baca kitab Fath Al Bary, 4:107
Pendapat Syeikh Ibnu Ustaimin ra.: 
 “Dan hadits yang agung ini menuinjukkan keutamaan puasa dari beberapa sisi;
Yang pertama: Bahwa Allah mengkhususkan untuk diri-Nya puasa dari antara seluruh amalan, dan demikian itu karena kemuliaannya disisi-Nya dan kecintaan-Nya kepada puasa, dan terlihat ikhlas kepada-Nya Maha Suci Allah di dalamnya, karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-Nya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, karena seorang yang berpuasa ia berada disebuah temapat yang kosong dari orang-orang, memungkin baginya untuk mengkonsumsi apa yang diharamkan Allah atasnya dengan puasa, lalu ia tidak menkonsumsinya, karena ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang Rabb yang mengetahui dalam kesendiriannya, dan Allah telah mengharamkan hal itu atasnya, maka ia meninggalkannya karena Allah karena takut akan siksa-Nya, berharap pahala-Nya, oleh sebab inilah Allah mensyukurinya keikhlasan ini dan mengkhususkan puasanya untuk diri-Nya dibandingkan seluruh amalannya, oleh sebab inilah Allah berfirman: “Ia meninggakan syahwat dan makanannya karena Aku.”

Saudara-saudara yang InsyaAllah dirahmatiNya
Dari dalil-dali di atas jelaslah bahwa puasa adalah suatu ibadah yang bisa membentuk keikhlasan dalam diri kita, sebab puasa merupakan ibadah yang mendidik jiwa tiap-tiap orang yang mengamalkannya. Akan tetapi didalam bulan ramadhan juga terdapat amalan-amalan yang bisa mengantarkan kita kepada sifat riya’. Coba kita lihat bahwa di bulan ramadhan, banyak sekali yang berlomba-lomba untuk shalat tarawih secara berjemaah dimasjid, berlomba-lomba untuk bersedekah akan tetapi shalat dan sedekahnya bukan karena Allah Swt, hal ini coba kita lihat seberapa banyak jemaah sahalat tarawih, seberapa banyak yang menyumbanngkan hartanya ketika pada akhir-akhir ramadan, seberapa banyak orang yang mampu menahan hawa nafsunya. Padahal Rosulullah SAW telah mengabarkan kepada kita dalam haditsnya yang berbunyi:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari).
Jadi bagi orang yang benar-benar beriman dan ikhlas kepada Allah Swt maka ibadahnya seharusnya senantiasa meningkat. Sebab prinsip orang beriman jika ibadahnya hari ini lebih buruk dari kemarin maka jelaka, jika hari ibadah hari ini sama dengan hari kemarin artinya rugi dan jika ibadahnya hari ini lebih baik dari hari kemarin maka beruntung.
Selanjutnya dalam Hadits lain yang berkaitan dengan amalan shalat malam atau shalat tarawih disebutkan,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari),
Dari hadits di atas yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, bab 6:hal. 36
Sedangkan yang dimaksud ihtisaban dalam hadits di atas berarti beramal karena mengharap pahala dari Allah. Itulah yang dimaksud ikhlas. Yang diharap bukanlah pujian manusia. Yang diharap bukanlah semata-mata harapan dunia.
Karena itu kita harus senantiasa berusaha belajar ikhlas dan berdoa kepada Allah Swt agar puasa kita dan amalan-amalan kita dibulan puasa ini diterima oleh Allah Swt, Amiin...
Inilah beberapa hal yang dapat saya sampaikan, kalau ada kata-kata yang salah saya mohon maaf dan kepada Allah saya mohon ampun.
Akhirul kalam wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Link Terkait: Kumpulan Ceramah Agama Singkat

25.6.14

HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

RINCIAN SEBAB MEMBATALKAN PUASA

Berpuasa secara utuh, adalah puasa yang meliputi dari dua unsur yaitu unsur jasmaniyah dan unsur rohaniyah. Ini diselaraskan dengan kejadian manusia yang terdiri dari unsur tersebut. Tepatlah, kalau Nabi SAW dalam haditsnya, riwayat dari Abu Ubaidah, menegaskan bahwa:
“Bukanlah puasa itu (sekedar menahan) dari makan dan minum saja (tapi) sesungguhnya puasa itu (menahan) diri dari perkataan yang sia-sia dan cacimaki.” (HR. At-Thabarani)
Berdasarkan hadits ini maka penulis mengambil kesimpulan bahwa yang dapat membatalkan puasa itu ada dua unsur, yakni unsur jasmani (lahiriyah) dan unsur rohani (batiniyah).
Di samping itu, dasar pembagian ini pada garis besarnya diambil dari pengertian hadits Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan keji dan melakukan kejahatan, maka tidak ada hajat (tidak menerima) Allah akan puasanya, sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum.” ((HR. Bukhari).

1.      Perbuatan-perbuatan yang membatalkan puasa secara lahiriyah (langsung).
Maksudnya, dengan perbuatan itu, maka batal (rusak) puasa seseorang, baik yang menyangkut puasa itu sendiri, maupun nilai pahalanya. Ini secara rinci meliputi:
a.       Berniat berbuka puasa
b.      Makan dan minum dengan sengaja
c.       Wanita haid, nifas dan wiladah (malahirkan)
d.      Keluar sperma (mani) di siang hari.
e.       Mengadakan hubungan seksual (jima’) di siang hari.
f.       Muntah dengan sengaja
g.      Memasukkan sesuatu benda (dengan sengaja) ke dalam salah satu rongga badan, seperti mulut, lobang hidung, lobang kuping, dubur dan kubul.
2.      Perbuatan-perbuatan membatalkan (merusak) puasa secara batiniyah (tidak langsung)
a.       Menurut para ulama Jumhur, orang yang berpuasa tapi masih berbuat maksiat, dosa dan lain sebagainya, maka puasanya sah, tapi nilai pahala puasaya rusak. Ketentuan ini meninjau dari segi lahiriah saja yang membatalkan puasa secara total, tetapi dari segi perbuatan batiniyah tidak mempengaruhi keabsahan puasa.
b.      Menurut para ulama salaf, orang yang melakukan maksiat, dosa dan lain sebagainya, maka puasanya dianggap batal, walaupun dia tidak makan, minum, campur dengan istri di siang hari dan lain sebagainya. Alasan mereka; apabila pahalanya ditolak tidak diterima oleh Allah Swt, berarti amalannya tidak sah. Maka puasanya dianggap tidak batal dan wajib membayar di lain waktu. Tapi dengan catatan, apabila perbuatan keji itu dilakukan secara sengaja.

Karena nilai pusa itu tidak hanya sekedar menahan pisik saja, tetapi ketahan untuk mengendalikan hawa nafsu peru diperhitunngan juga. Sehingga dengan demikian, nilai puasa tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga macam:
a.       Puasa ‘awwam (Umum). Dalam pelaksanaannya, mereka yang berpuasa hanya sekedar mampu menahan makan. Minum, dan campur dengan istrinya pada siang hari. Titik beratnyna mereka berusaha memelihara kesempurnaan lahiriayahnya saja, sedangkan batiniyahnya, tidak mereka perhitungkan Oleh karena itu pada umunya puasa seperti ini bisa dikerjakan oleh siapa saja.
b.      Puasa Khauwas (khusus). Dalam pelaksanaannya, mereka yang berpuasa tidak sekedar mampu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriyah, tapi mereka telah mampu memelihara panca indera dari perbuatan maksiat, dengan cara:
1)      Menjaga pandangan dari mata dari segala yang haram maupun makruh.
2)      Memelihara ucapan lidah dari kata-kata yang kotor, dusta, bohong, gosip dan lain sebagainya.
3)      Memelihara kuping dari mendengar ucapan bohong, kotor, porno, dan seterusnya.
4)      Waktu berbuka, makan dan minum yang wajar, tidak terlalu berlebih-lebihan.
5)      Berusaha mengendalikan seuruh anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan dosa.
c.       Puasa khauwasul khauwas (khusulil khusus). Dalam pelaksanaanya, daya kemampuan puasa mereka lebih tinggi  dari nilai yang diperoleh pada peringkat pertama dan kedua, yaitu mereka lebih mampu memeihara hatinya untuk memeikirkan hal-hal yang berhubungan dengan urusan dunia selama mereka berpuasa. Pikiran dan hati mereka tidak pernah lupa untuk berzikir kepada Allah Swt diman saja mereka berada.

Oleh karena itu, peringkat puasa yang ketiga ini hanya mampu dikerjakan oleh mereka yang mempunyai nilai iman yang sangat tinggi mutunya (istimewa), karena mampu menahan nafsu perut dan syahwat, berhasi mengendalikan seluruh panca indera dari perbuatan maksiat dan akhirnya mereka mampu pula memusatkan konsentrasi mereka secara utuh untuk zikrullah.

KUIS KEBERUNTUNGAN

KUIS KEBERUNTUNGAN bagi yang para pengunjung blog Silahkan Ikuti dengan MENGKLIK DISINI

Google+ Badge