Daftar Isi My Blog

21.9.16

CERAMAH 1 MUHARRAM-MAKNA HIJRAH

MAKNA HIJRAH DAN CARA MUHASABAH DIRI


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Yang Kami Hormati:

  1. Bapak Bupati ...................................beserta jajarannya .....................................
  2. Bapak Ketua DPRD ............................................................................................
  3. Bapak dan Ibu Unsur Muspida ...........................................................................
  4. Kepala Dinas, Instansi Pemerintahan, Pimpinan TNI dan Polri serta Pimpinan Perusahaan dan ....................................................................................................
  5. Para Tokoh Masyarakat, Agama, dan Tokoh pemuda di ....................................
  6. Para Hadirin yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang berbahagia

Puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt, Tuhan sang pencipta Alam Semesta, Tuhan yang Maha Agung, Maha Arif dan bijak sana yang mengatur segala sesuatu dan tak pernah Lena, karena hanya dengan berkat dan perkenanNya jualah kita pada hari ini dapat memperingati Tahun Baru Islam 1438 Hijriah. Karena itu sudah sepantasnya kita senantiasa memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. seraya memohon dan berdoa semoga peristiwa ini mendapatkan berkah dari-Nya. Selanjutnya Sholawat serta salam kita sanjungkan kepada Nabi Kita Muhammad Saw, semoga kita senantiasa istiqomah terhadap ajaran-ajaran beliau dan nantinya di yaumul akhir kita mendapat syafaat dari beliau. Amiin.
Hadirin dan hadirat yang Insya Allah dirahmati Allah !

Pertama dan yang paling utama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Swt, atas curahan rahmat yang diberikannya kepada kita, semenjak berada di rahim ibu, lalu ibu melahirkan kita ke alam dunia yang fana ini dengan susah payah, menyusui dengan susah payah pula, membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang sampai akhirnya kita dalam keadaan kita masing-masing sekarang. Semoga kita digolongkan kepada golongan orang-orang yang selalu bersyukur nikmatNya, dapat menghormati dan berbuat baik kepada para pahlawan yang berjasa dan selalu berada pada jalan yang diridlai-Nya.
            Shalawat dan salam kita sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang telah membebaskan kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan, dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang, dari zaman Siti Khodijah menuju Zaman Siti Nur Kholijah, dari zaman Ibu Fatimah menuju zaman Ibu Kita Kartini, berkat jasa beliau Islam tersebar di penjuru dunia. Berkat Jasa beliau pula kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Hadirin dan hadirat yang Insya Allah dirahmati Allah !

Pada hakekatnya hijrah dalam Islam merupakan suatu hijrah yang berupa perpindahan atau suatu perubahan dari suatu asal menuju suatu tujuan yang di nilai lebih baik dari asalnya. Hijrah ini sesuai jika dilihat secara bahasa yang artinya meninggalkan. Makna ini mengandung arti bahwa seseorang dikatakan hijrah jika ada sesuatu yang ditinggalkan dan ada sesuatu yang dituju (Sasaran=tujuan). Kedua hal ini harus dipenuhi oleh seseorang yang berhijrah.
Dalam Siroh Nabi Muhammad SAW kita ketahui bahwa Rasulullah SAW dan Para Sahabat berhijrah dari Mekkah ke Madinah, yakni saat itu hijrah untuk meninggalkan tempat yang tidak kondisuf untuk berdakwah atau mengadakan Syiar Islam. Kemudian peristiwa hijrah itulah yang dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan tahun Hijriyah.
Penetapan Tahun Hijriyah ditetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khatab RA, sebagai jawaban atau surat Wali Abu Musa Al-As’ari. Khalifah Umar menetapkan Tahun Hijriyah Kalender Tahun Gajah, Kalender Persia untuk menggantikan penanggalan yang digunakan bangsa Arab sebelumnya, seperti yang berasal dari tahun Gajah, Kalender Persia, Kalender Romawi dan kalender-kalendar lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Khalifah Umar memilih peristiwa Hijrah sebagai  taqwim Islam, karena Hijrah Rasulullah Saw dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa paling monumental atau bersejarah dalam perkembangan dakwah.
Jika dilihat dari substansi tujuan dari Hijrah itu sendiri maka secara garis besar hijrah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:
1.        Hijrah Makaniyah : Yaitu meninggalkan suatu tempat. Hijrah makaniyah yang pernah dilakukan oleh Rasul Allah dan Sahabat-sahabatnya, terdapat beberapa jenis Hijrah yaitu:
·         Hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Habasyiyah.
·         Hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah.
·         Hijrah dari suatu negeri yang didalamnya didominasi oleh hal-hal
yang diharamkan.
·         Hijrah dari suatu negeri yang membahayakan kesehatan untuk menghindari penyakit menuju negeri yang aman.
·         Hijrah dari suatu tempat karena gangguan terhadap harta benda.
·         Hijrah dari suatu tempat karena menghindari tekanan fisik
·         Seperti hijrahnya Ibrahim as dan Musa as, ketika Beliau khawatir akan gangguan kaumnya.
Sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an: “Berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan). Tuhanku, Sesungguhnya Dialah yang Maha perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. Al-Ankabuit, 29:26).
Maka keluarkanlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu (Qs. Al-Qashah, 2:21).

Saudara-saudara yang Insya Allah dirahmati Allah!

Selanjutnya makna hijrah kedua adalah:
2.        Hijrah Maknawiyah
Secara maknawiyah hijrah dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
a.    Hijrah I’tiqadiyah
Yaitu hijrah keyakinan. Iman bersifat pluktuatif (Zid Wayankusu)yakni terkadang bertambah atau naik dan terkadang turun. Jika saat naik menuju puncak keyakinan mu’min sejati, tetapi kadang pula melemah atau turun mendekati kekufuran, dan saat melemah iman juga bersifat sinkretis, bercampur dengan keyakinan lain mendekati memusyrikan, dalam konteks psikologi biasa disebut dengan konversi keyakinan agama. Saat itulah hijrah diwajibkan bagi kita, agar kita tidak terperosok dalam kenegatifan.
b.    Hijrah Fikriyah
Fikriyah secara bahasa berasal dari kata fiqrun yang artinya pemikiran. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan bumi bisa secara oline kita akses.
Pada zaman sekarang ini, sebenarnya telah terjadi perang pemikiran. Peperangan yang ada tapi tak disadari keberadaannya oleh kebanyakan manusia gendang perang telah dipukul dalam medan yang namanya “Ghoswul Fikr”. Karena itu kita harus mengevaluasi diri kita apakah kita sudah kalah dan tertangkap oleh musuh atau belum, untuk itu kita perlu mengevaluasi dengan cara kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang murni.
Rasullah Saw pernah bersabda: “Umatku niscaya akan mengikuti sunan (budaya, pemikiran, tradisi, gaya hidup) orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta-demi sehasta, sehingga mereka masuk ke lubang biawak pasti umatku mengikuti mereka. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani ? Rasulullah menjawab: Siapa lagi kalau bukan mereka.
c.    Hijrah Syu’uriyyah
Syu’uriyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan dan sejenisnya, semau yang ada pada diri kita seiring terpengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang Islami Banyak hal seperti hiburan, musik, bacaan, gambar/hiasan, pakaian, rumah, idola semua hal yang jauh dari nilai-nilai Islami. Misalnya mode pakain, makanan dan minuman ala gaya kaum jahiliyah. Jika kita sudah mengikuti gaya-gaya kaum jahiliyah hendaknya kita segera  berhijrah dan menjauhi kebiasaan-kebiasaan ala kaum tersebut.
d.   Hijrah Sulukiyyah  
Suluk berarti kepribadian atau kebiasaan atau prilaku yang juga disebut akhlaq. Dalam perjalanannya ahklaq dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Pergeseran kepribadian dari akhlaqul karimah menuju kepribadian tercela akhlaqul sayyi’ah (akhlaqul Majmumah). Karena itu tidak heran dan aneh jika di masyarakat bermuculan berbagai tindak moral dan asusila. Pemerkosaan, perampokan, penodongan, pencurian, pembunuhan, pelecehan, penghinaan, penganiyaan dan lain sebagainya seolah-olah sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita. Korupsi, prostitusi dan manipulasi hampir bisa ditemui di berbagai kota dan daerah.
            Sebagai moment memperingati hijrah ini, sangat tepat jika kita mengoreksi akhlaq dan kepribadian dari diri kita masing-masing untuk menghijrahkan diri kita kepada akhlaq yang mulia.
            Mengoreksi atau mengintropeksi diri merupakan suatu yang harus dilakukan bagi orang yang mengaku dirinya beriman Kepada Allah Swt dan Hari Kiamat, sehingga akan mendapatkan suatu ganjaran dari Allah di hari akhir nanti. Sebagaimana Hadits Rasul yang berbunyi:
إِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia”(HR. Tirmidzi).

Saudara-saudara yang Insya Allah dirahmati Allah!

Lalu Bagaimana cara kita Menghijrahkan diri dengan cara mengevaluasi diri atau mengintrospeksi diri?,

Beberapa cara mengevaluasi Diri, diantaranya:

1.    Membuka Diri dari saran pihak lain
Sebagai manusia biasa tentu diri kita tidak terlepas dari khilaf dan lupa, karena itu tentu kita membutuhkan orang lain yang bisa mengingatkan diri kita dikala lupa atau hilaf. Sebagaimana di sinyalir dalam al Qur’an yang berbunyi:
Artinya: “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
       Dari ayat di atas jelas bahwa manusia karena tidak luput dari kesalahan dan lupa maka hendaknya kita bersifat terbuka, atas nasehat, saran dan bermusyawarah guna mengevaluasi diri dengan minta pendapat dari rekan dengan niat untuk mencari kebenaran.
Suatu riwayat dari Imam Bukhari yang menceritakan usul atau pendapat Umar Bin Khattab kepada temannya Abu Bakar Ash-Siddiq ra. Yang saat itu menjabat sebagai khalifah, adapun usul Umar adalah untuk mengumpulkan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus berupaya mengusulkan dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakar pun menerima dan mengatakan,
فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ
Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” (HR. Bukhari).
Ini menunjukkan bahwa sifat dan sikap Abu Bakar terbuka atas usul bawahannya, selama usul itu untuk kebaikkan dan tentunya dibantu dengan argumen yang benar dan rasional, sehingga menemukan suatu kebaikkan atau jalan keluar.  

1.    Bersahabat dengan rekan yang shalih (Ikatan Ukhuwah Islamiyah)
Bersahabat dengan rekan yang shalih tentunya akan mengingatkan kita dikala kita lupa, membantu kita dikala kesulitan. Yang mengikat persahabatan mereka adalah ikatan Tauhid (Ketuhahan) sehingga tidak mudah goyah, tidak mudah putus tujuannya adalah Allah Swt. Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda, yang berbunyi:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي
Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa” (HR. Bukhari).
            Ketika budaya saling sehat menasehati antar saudara dalam perilaku kaum mukminin, maka seakan-akan mereka itu adalah cermin bagi diri kita yang akan mendorong kita berlaku konsisten. Ikatan Ukhuwah Islamiyah yang terjalin akan mengarahkan kita ke jalan dan pendapat yang tepat, karena itu kita harus berteman dengan seorang yang shalih. Anda dan kita semua jangan mengalihkan pandangan kepada maddahin (kalangan penjilat) yang justru akan mengarahkan dan menggiring kita kejalan yang salah.
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ
Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat”(Shahih. HR. Abu Dawud).
Betapa banyak kezhaliman dapat dihilangkan dan betapa banyak tindakan yang keliru dapat dikoreksi ketika rekan yang shalih menjalankan perannya.

2.    Muhasabah Diri dengan Cara Menyendiri
Bentuk evaluasi diri yang juga berguna adalah dengan cara menyendiri untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan mengoreksi berbagai amalan yang telah diperbuat.
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, beliau mengatakan,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ
Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)” (HR. Tirmidzi).

Dalam riwat lain dari Maimun bin Mihran, Rasullah bersabda,
لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ
Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya”(HR. Tirmidzi).
            Hadits di atas menunjukkan bahwa pentingnya untuk mengevaluasi diri, dan juga dianjurkan untuk memberikan koreksi yang membangun kepada saudara kita. Namun alangkah baiknya jika mengevaluasi dimulai dari diri sendiri, agar saat mengevaluasi saudara atau teman mudah diterima dan didengarkan, tentunya tidak termasuk kaburomaktan dan juga berdasarkan pendekatan psikologis. Kalau kata Aa Gym atau Abdullah Gymnastiar “Mulai Dari Diri Sendiri”, hehehe...........
            Demikian sepatah dua patah kata dari saya, semoga acara memperingati 1 Muharram ini akan membantu kita berhijrah sesuai dengan hakekat Hijrah sebenarnya.
Selanjutnya kalau ada kata-kata yang salah saya mohon maaf dan kepada Allah Swt saya mohon ampun, akhirul kalam, wabillahitaufiq wal hidayah,

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Baca Juga:

Ceramah Pada Acara Khusus, Tentang:

Khutbah Tema Khusus, Tentang:

8.9.16

KHUTBAH JUMAT TENTANG QURBAN

MELALUI BERQURBAN MENDIDIK KEIKHLASAN,
DAN MENGOBATI PENYAKIT IRI DAN DENGKI
Oleh: Ust. Sonin, M.Pd.I


Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Beberapa hari lagi kita akan dipertemukan dengan Idul Adha; yang juga bisa disebut yaumun nahar, hari raya qurban. Lalu hari ini kita  dipertemukan-Nya dengan hari raya pekanan; yaumul Jum'ah, yang juga disebut sayyidul ayyam.
Maka sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat itu. Sungguh, tanpa hidayah dari Allah, kita takkan berada di jalan lurus ini; jalan keselamatan, jalan kebahagiaan, jalan kemenangan; dinul Islam. Tanpa rahmat dan nikmat-Nya, kita tak mungkin mampu beramal ibadah dalam dua hari raya tersebut. Karena itu sudah sepantasnya kita bersyukur dengan cara memanfaatkan nikmat Allah untuk mentaati-Nya.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Sejarah mencatat bahwa bagaimana Allah Swt memerintahkan kepada Putra-putra Nabi Adam As. untuk berqurban, dimana Qabil berqurban hasil tani yang paling buruk, dan Habil berqurban dengan domba yang paling bagus. Dan Allah menerima qurban Habil bukan karena bentuknya bagus, tapi karena keikhlasannya mengurban yang terbaik kepada Allah. Karena Allah Swt juga melihat sesuatu ibadah  dari tingkat keikhlasan hambanya. Untuk itu bagi seorang hamba yang ibadahnya ingin diterima oleh Allah Swt termasuk juga dalam ibadah qurban adalah tingkat keikhlasan seseorang.

Berikutnya contoh qurban yang dilakukan oleh nabi Ibrahim AS, ketika beliau diperintah Allah menyembelih Ismail putra satu-satunya pada saat itu. Seperti Allah gambarkan dalam surat 37 ayat 102 yang berbunyi:
Kisah Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Artinya: "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Jelas tanpak pada ayat di atas bahwa bagaimana sifat dan sikap Nabi Ibrahim As. dan Nabi Ismail As dalam menjalankan perintah Allah Swt. Jika tidak ada sifat dan sikap ikhlas dalam diri kedua hamba tersebut tentulah sangat berat untuk menjalankan perintah Allah Swt. Yang mana diketahui bahwa  Nabi Ibrahim AS sampai usia lanjut belum juga diberikan Allah Swt seorang anak, akan tetapi beliau tidak pernah berhenti berdo’a meminta anak yang sholeh, do’a ini Allah abadikan dalam surat 37 ayat 100, yang berbunyi:
Anak Laki-laki yang Shaleh
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”
Sehingga Allah Swt menganugrahi seorang anak, ketika anak itu menjelang dewasa Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, maka disampaikan hal ini kepada Ismail, lalu Ismailpun menjawab, Ayah kalau itu perintah Allah lakukan ayah, semoga aku termasuk orang yang sabar. Karena sifat dan sikap Ikhlas kepada Allah Swt sehingga nabi Ibrahim dan Ismail berhasil menjalankan perintah Allah Swt.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Pelaksanaan Qurban oleh Nabi Ibrahim As dengan anak beliau (Nabi Ismail As), bukti ketaatan dan keikhlasan kedua hamba Allah Swt. Selanjutnya dalam proses pelaksanaan Qurban tersebut Allah Swt  mengganti Nabi Ismail As dengan seekor Kibas (Domba), Sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an surat Ash-Shaffat ayat: 107-108, berbunyi:

Di Ganti dengan Seekor Kibas/ Domba

 “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan anak Ibrahim (pujian yang baik ) dikalangan orang-orang yang datang kemudian“.
Selanjutnya syariat berqurban dengan menyembelih binatang ternak tersebut menjadi syariat untuk umat Nabi Muhammad SAW. Meskipun dengan cara menyembelih binatang ternak untuk membuktikan ketaatan dan keikhlasan terhadap pemberian Allah berupa hewan Qurban, namun sebagian orang tidak sedikit yang merasa berat untuk memberikan qurbannya yang Ikhlas karena Allah, sedangkan dari kisah anak Nabi Adam As, Qabil dan Habil yang berqurban, selanjutnya yang diterima qurban dari Habil, karena dia Ikhlas karena Allah Swt.
Ibadah qurban selain mendidik keikhlasan juga mengobati penyakit iri dan dengki. Jika kita lihat kembali dari sejarah, bahwa awal mulanya Allah Swt, memerintahkan mereka untuk berqurban adalah berawal dari sifat dan sikap iri dan dengki dari anaknya Qabil, karena calon istri Qabil bermuka kurang cantik dalam pandangannya, sedangkan calon Istri/ pasangan untuk saudaranya Habil sangat cantik. Berawal dari itulah sehingga muncullah sifat dan sikap iri dan dengkinya kepada saudaranya Habil. (Baca: Kisah Qabil dan Habil )
Menghadapi anaknya Qabil yang iri dan dengki terhadap anak yang bernama Habil (yang didengki), Nabi Adam As, mengalami kebingungan sehingga Allah Swt memerintahkan keduanya untuk berqurban, bagi siapa yang qurban di terima oleh Allah Swt maka dia yang mendapatkan atau berhak memperistri anaknya yang cantik (yang diperebutkan) tersebut.
Pada hakekatnya Allah Swt melarang kita iri pada orang lain atas karunia baik berupa; rezeki, badan yang sehat dan kuat, cantik/ tampan, jabatan yang tinggi dan lain sebagainya, yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah jadi ketentuan Allah Swt.

Surat An Nisaa' ayat 32 Tentang Iri dan Dengki

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32]
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Lalu Kapan manusia boleh Iri? Kita hanya boleh iri dalam 2 hal. Yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu. Sebagimana dalam hadits yang artinya: “Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Karena itu agar diri kita terhindar dari iri, maka saat diri kita mengagumi milik orang lain hendaknya mendoakan agar yang bersangkutan dilimpahi berkah oleh Allah Swt. Sebagaimana dalam Hadits yang artinya: “Apabila seorang melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya (dikaguminya) maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah. Sesungguhnya pengaruh iri adalah benar.” (HR. Abu Ya’la)
Kemudian pengaruh dengki lebih parah dari iri. Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh karena itu Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki, sebagaimana Allah Berfirman:
Doa Berlindung Dari Orang Iri dan Dengki

Artinya: 1) Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, 2). Dari kejahatan makhluk-Nya, 3). Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita, 4). Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, 5).  Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki."
Kedengkian juga bisa menghancurkan pahala-pahala kita. Rasullah Saw. Bersabda: “Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR. Abu Dawud)
Karena itu mari kita didik hati kita dengan cara Ikhlas terhadap ketentuan Allah Swt., bersihkan hati, bersihkan jiwa dari penyakit iri dan dengki, mari kita berpikir positif atas segala yang ditakdirkan-Nya kepada diri kita masing-masing. Sebab orientasi akhir dari kehidupan bukanlah dunia akan tetapi orientasi akhirnya adalah akherat yang kekal dan abadi. Janganlah kita jual agama kita dengan dunia, agar kita selamat di dunia dan akherat. Amiin.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ عَظِيْمِ. وَنَفَعْنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلَايَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمَنْكُمْ  تَلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْم. اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُاللَه الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتُ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُرُ الرَّحِيْمِ

Google+ Badge