ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKAATUH ...

Daftar Isi My Blog

21.4.17

MEMAKNAI ISRA’ MI’RAJ DALAM KEHIDUPAN SOSIAL



MEMAKNAI ISRA’ MI’RAJ DALAM KEHIDUPAN SOSIAL
Oleh: Sonin

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ, الْكَرِيْمِ الْمَنَّانِ, الرَّحِيْمِ الرَّحْمَنِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يَدُوْمُ عَلَى الدَّوَامِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى الْخَيْرِ وَاْلإِنْعَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ َصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مَحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه الزَّمَانِ، أَمَّا بَعْدُ؛
 فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

Hadirin Jum’at rahimakumulllah,
Tanpa terasa, saat ini kita telah masuk dipenghujung bulan Rajab, yang mana di dalam bulan Rajab terdapat sebuah peristiwa maha penting dalam catatan sejarah peradaban umat manusia, yakni peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw. Isra’ Mi’raj merupakan sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa, di mana nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya akan tetap aktual dan abadi sepanjang zaman. Sehingga peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut senantiasa diperingati oleh sebagian besar umat Islam di berbagai penjuru dunia, dan dijadikan momentum untuk mengaktualisasikan kembali nilai-nilai penting di dalamnya. Terlebih pada masa sekarang, di mana bangsa dan masyarakat kita terus menerus digoncang oleh berbagai kasus kejahatan, penyimpangan, dan sederet praktik-praktek yang tidak terpuji lainnya, Misalnya tidak sedikit kita temukan anak remaja melakukan hubungan bebas, mengkonsumsi minuman keras, melawan dan menganiaya guru dan orang tuanya sendiri, pembegalan, mafia hukum dan peradilan, korupsi, konflik antar elite politik dan lembaga negara, dan lain sebagainya. Karena itu mari kita mengambil pelajaran dari Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi kita Muhammad Saw, yang kita Rasul Sebagai Suritaulan kita.

Jama’ah Jum’at ...

Dari Peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini paling tidak, sedikitnya ada 4 (empat) nilai mendasar yang sangat penting untuk kita maknai dari peristiwa tersebut:

Pertama, peristiwa Isra’, yang berarti perjalanan Nabi Muhammad Saw. di malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha. Peristiwa itu memberikan isyarat kepada kita, bahwa manusia perlu membangun komunikasi sosial/horizontal. Pada peristiwa Isra’, perjalanan Nabi SAW bersifat horizontal: dari bumi yang satu ke bumi lainnya, yang disimbolkan dari masjid ke masjid, yakni dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Maka, masjid yang merupakan “simbol” pusat kegiatan keagamaan umat Islam, harus pula ditransformasikan nilai-nilainya di tengah kehidupan sosial atau kemasyarakatan secara nyata. Umat Islam harus mampu membangun relasi sosial (hablun minan-nas) yang rukun dan harmonis di tengah-tengah kehidupannnya.
Dengan kata lain, selain berkualitas secara Vertikel (hubluminAllah) hendaknya juga hubungan secara horizontal yakni habluminannas juga baik. Baik ketika berada di lingkungan kerja maupun di tengah-tengah masyarakatnya, melalui jalinan silaturahmi, intraksi dan komunikasi yang baik dengan sesama. Inilah yang disebut dengan “kesalehan sosial”.
Sebab, tidak jarang sewaktu berada di dalam masjid seseorang tampak khusyuk beribadah, namun begitu keluar masjid, nilai-nilai kekhusyukan ibadahnya itu ia tanggalkan. Akibatnya, di tempat kerja maupun di lingkungan masyarakatnya ia masih kerap melakukan prilaku-prilaku yang justeru bertentangan dengan nilai-nilai ibadah yang telah dilakukannya, seperti melakukan korupsi, kecurangan, penipuan, membicarakan aib dan kejelekan orang lain, menebarkan fitnah, hingga memelihara perpecahan dan konflik berkepanjangan. Model beragama seperti itu jelas merupakan wujud keberagamaan yang semu. Sebab salah satu wujud keberagamaan yang hakiki, ditandai dengan kemampuan seseorang menjalin hubungan dengan cara yang baik, bermanfaat bagi banyak orang bukan membawa mudhorat yang bisa mengantarkan seseorang kepada Murka Allah Swt.
Di samping itu, perisiwa Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha juga memberi isyarat bahwa, mestinya antara satu masjid dengan masjid lainnya harus ada sinergi atau kerjasama yang harmonis dalam membangun kegiatan dakwah dan pendidikan keagamaan kepada masyarakat secara luas. Jangan sampai, masjid justeru hanya dijadikan sebagai ajang untuk membentuk ideologi sektoral secara eksklusif dan sempit, yang justru merusak jalinan ukhuwwah antar umat Islam, sehingga ummat Islam terpecah belah dan terkotak-kotak sehingga mudah dimanfaatkan oleh Aktor-aktor lain untuk diadu domba.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kedua, peristiwa Mi’raj, di mana Nabi SAW dari Masjidil Aqsha kemudian naik ke Sidratil Muntaha, berjumpa dengan Allah SWT. Perjalanan spiritual itu memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya harus melakukan upaya “transedensi”, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga terhindar dari jebakan-jebakan materi-duniawi yang seringkali membuat manusia kalap dan lupa diri, hingga berani melakukan tindakan-tindakan penyelewengan atau pun pelanggaran hukum yang banyak merugikan orang lain.
Sebagai makhluk berketuhanan, manusia harus mampu membangun relasi atau hubungan yang harmonis dengan Tuhan-Nya. Dengan begitu, maka sifat-sifat Tuhan sebagai Dzat yang Maha Pengasih dan Sumber Kebaikan, harus dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Akhlakul Karimah harus terus ditegakkan, untuk melawan segala bentuk Akhlakul Majmumah. Kita tentunya sangat prihatin dan sedih jika masyarakat kita, keluarga dan anak-anak kita jauh dari nilai-nilai agama. Karena itu mulailah dari diri kita masing-masing untuk membiasakan diri berprilaku yang baik sehingga menjadi tauladan bagi lingkungan dan generasi kita.

Kemudian yang Ketiga, dalam peristiwa Mi’raj dari Masjidil Aqsha ke Sidratil Muntaha, Nabi SAW berjumpa langsung dengan Allah SWT. Ini merupakan puncak pengalaman spiritual sekaligus nikmat yang sangat indah dan tak tertandingi oleh nikmat-nikmat apapun. Namun, di sinilah nampak sifat keluhuran dan ke-luar biasa-an Rasulullah SAW, di mana setelah bertemu dengan Allah Swt, beliau justeru masih mau turun lagi ke dunia untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan demi keselamatan umatnya. Peristiwa ini mengandung pelajaran yang sangat penting, bahwa kita tidak boleh terjebak pada kesalehan ritual-spiritual yang bersifat personal semata. Sebab kesalehan yang sejati adalah manakala seseorang bisa membangun relasi yang harmonis dan seimbang: baik antara dirinya dengan Tuhannya (hablun min Allah); antara dirinya dengan sesamanya (hablun min al-nas); maupun antara dirinya dengan alam dan lingkungan sekitarnya (hablun ma’a al-bi’ah). Ini mengandung makna bahwa dengan adanya ilmu dalam diri kita hendaknya bermanfaat juga bagi orang lain, memberi cahaya dan penerangan kepada orang lain, bukan membawa kegelapan dan kemudhoratan kepada orang dan makhluk lain.

Hadirin jama’ah Jum’at yang berbahagia,
Keempat, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi SAW mendapat perintah yang sangat penting, berupa perintah shalat. Sedemikian pentingnya shalat, sehingga perintah itu diterima langsung oleh Nabi tanpa melalui perantara Malaikat Jibril. Rasulullah Saw bersabda:
الصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ
“Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang menegakkan shalat berarti ia menegakkan agama, barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia menghancurkan agama.”



Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة
“Batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim dan At Tirmidzi)
Demikian sabda Nabi. Namun hal yang sesungguhnya paling penting adalah bagaimana kita menjiwai dan menerapkan pesan-pesan moral yang terkandung dalam ritual shalat tersebut. Jangan sampai kita memahami shalat hanya sebatas rutinitas dan “seremonial” belaka, tanpa memahami makna apa-apa di dalamnya. Al-Qur’an mengkritik orang-orang yang melakukan shalat sebagai “pendusta agama” dan bahkan dianggap celaka, manakala mereka melalaikan atau tidak melaksanakan pesan-pesan moral yang terkandung di balik shalat yang dilakukannya, sebagaimana Allah Swt Berfirman:
“ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” (QS. al-Ma’un: 4-5.)

Dalam Suroh yang lain Allah Swt Berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS al-Ankabut: 45) : 

Ayat di atas menurut Abul Aliyah yang mengutip Tafsir Ibnu Katsir, bahwa: Ada 3 karakteristik dalam shalat, setiap shalat yang tidak terdapat salah satu dari ketiganya bukanlah shalat, yakni: Ikhlas, takut pada Allah, dan berzikir mengingat Allah (mengingat perintah dan larangan-Nya dalam al-Qur’an, saat membacanya).

Maksudnya adalah:
1.      Dengan “Ikhlas” akan memerintahkan pelaku shalat untuk melakukan hal yang baik.
2.      Dengan “Takut pada Allah” akan mencegah pelaku shalat dari melakukan kemungkaran.
3.      Dengan “Berzikir mengingat Allah” (dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an saat shalat) akan memerintahkannya berbuat kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran.

Jama’ah Jum’at yang berbahagia,
Shalat mengajarkan kita akan pentingnya disiplin dan menghargai waktu. Maka, salah satu ciri dari kualitas shalat seseorang adalah sejauh mana ia disiplin dan menghargai waktu, yang kemudian diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Di dalam shalat juga terkandung pesan ke-tawadlu’, sebab betapa di dalam shalat kita rela meletakkan kepala kita, yang merupakan mahkota atau anggota tubuh yang paling mulia, merunduk ke tempat sujud, sejajar dengan kaki kita dan kaki saudara-saudara kita. Maka kesombongan dan sikap kesewenang-wenangan jelas bukanlah sifat orang yang baik shalatnya. Shalat juga mengajarkan kita akan pentingnya menebarkan nilai-nilai kedamaian, keharmonisan, dan persaudaraan. Karena bukankah setiap kali kita mengakhiri shalat, kita selalu mengucapkan salam (assalamu’alaikum warahmatullah) sambil menoleh ke kanan dan ke kiri?!. Maka indikator lain dari orang yang baik shalatnya adalah ia senantiasa menebarkan rasa kedamaian, persaudaraan, dan kasih sayang di tengah-tengah masyarakatnya. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan berbagai pelajaran penting dari peristiwa Isra’ Mi’raj serta betul-betul mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


23.12.16

SIKAP ORANG MUSLIM MENYONGSONG TAHUN BARU MASEHI



SIKAP MENYONGSONG TAHUN BARU MASEHI

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Kaum muslimin sidang jum'at yang berbahagia.
Mari kita pnjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan banyak kenikmatan terutama nikmat Iman dan Islam, Selanjutnya Shalawat dan Salam kita Sanjungkan Kepada Nabi Kita Muhammad Saw, semoga kita tetap Istiqomah atas ajaran-ajaran beliau, dan akhirnya mendapatkan Syafaatnya di yaumul Akhir nanti, amiin.

Kaum muslimin sidang jum'at yang berbahagia.
Kini kita semua berada di penghujung tahun masehi, 8 hari lagi  tahun lama meninggalkan kita, dan akan datang tahun baru. Ini menunjukkan bahwa usia kita akan bertambah satu tahun lagi. Dengan bertambahnya usia, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, menunjukkan pula bahwa jatah hidup kita makin berkurang hingga ajal kita datang, karena itu kita perlu intropeksi diri.
Akan tetapi, selama ini fenomena di masyarakat kita yang mayoritas Islam, melakukan perayaan menyambut Tahun Baru Masehi sudah ikut-ikutan cara umat agama lain. Dimana, masyarakat yang bukan Islam lebih dominan dalam perayaan tersebut melakukan hura-hura, berfoya-foya, minum minuman keras, dan lainnya. Kondisi ini yang sebagian besar umat Islam mengikutinya tanpa tahu apa maksud dari itu. Tragisnya lagi, generasi muda saat ini bahkan tak terlalu menghiraukan Tahun Baru Hijrah, tapi kalau masuk Tahun Baru Masehi para remaja negeri ini mempersiapkan segala sesuatu untuk perayaannya bersama teman-teman, ada di cafe, tempat hiburan, lapangan yang gelap dan bakar ayam untuk hura-hura, banyak lagi cara lainnya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.
Umat Islam seharusnya menyambut masuknya Tahun Baru Masehi dengan mengintropeksi diri (muhasabatun nafsi),
Bahkan dengan muhasabatun nafsi, kita dapat mengetahui hakikat dan persoalan diri kita secara pasti, amal yang kita lakukan dan bertambahnya kapasitas diri serta bekal menuju perjalanan akhirat kita yang amat panjang dan pasti.
Dalam hal ini Khalifah Umar ra. Pernah Berkata:
حَاسِبُوْا أَنْفُوْسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
(Hisablah, hitung-hitung diri kamu sebelum kamu dihisab oleh Allah SWT.)
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Ada tiga perkara yang perlu kita hisab, kita hitung-hitung dalam kehidupan ini:
Yang pertama, Masalah Dien, Agama kita, yakni Al-Islam. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini pantas kita arahkan pada diri kita: Sudah sejauh mana kita memahami dan mengamalkan ajaran agama kita?
Terkait masalah Dien ini, kita harus selalu menanamkan dalam diri kita spirit dan semangat belajar, belajar dan belajar. Karena Dienul Islam itu adalah ilmu, sedangkan ilmu tidak akan didapat kecuali dengan belajar dan mempelajarinya.
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Yang kedua, Masalah dunia kita. Dalam masalah kehidupan dunia, ada 3 hal yang perlu kita hisab:
1.    Bagaimana kita menyikapi kehidupan dunia ini? Apakah kita mencintainya dan kita jadikan ia menjadi tujuan hidup kita? Ataukah berbagai fasilitas kehidupan ini, termasuk uang, rumah, kendaraan yang kita miliki, kita letakkan hanya sebagai sarana kehidupan dan kita tidak mencintainya melebihi cinta pada Allah dan Rasul-Nya? Ingat! Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa zuhud pada dunia adalah kunci mendapat cinta Allah.
2.    Dari mana asal usul semua harta yang kita miliki? Apakah harta yang kita miliki benar-benar berasal dari sumber yang halal dan tidak sedikitpun tercampur dengan yang haram seperti riba, menipu, mencuri dan sebagainya, atau syubhat (belum jelas halal atau haram). Harta yang haram dan syubhat menyebabkan hati kita sakit dan bahkan bisa mati serta do’a kita tidak dikabulkan Allah. Pada akhirnya, di dunia kita kehilangan barokah hidup dan di akhirat kita akan dilemparkan Allah ke dalam neraka. Sebab itu, Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita agar memakan, meminum dan memakai dari sumber yang halal dan dari benda dan jenis yang dihalalkan.
3.    kemana kita belanjakan dan manfaatkan harta yang Allah anugerahkan pada kita? Kendati harta yang kita dapatkan dengan cara yang halal dan jenisnya pun halal, bukan berarti kita dibolehkan semau kita dalam membelanjakan dan memanfaatkannya. Islam mengatur sistem belanja, distribusi dan pemanfaatan harta kita. Harta tersebut pada hakikatnya Allah titipkan kepada kita agar menjadi modal kita untuk kepentingan akhirat kita.
Sebab itu, Allah memotivasi kita agar harta yang Allah anugerahkan itu kita infakkan/belanjakan di jalan-Nya setelah kita keluarkan kewajiban yang ada di dalamnya seperti zakat, nafkah, infaq, shadaqah, wasiat dan sebagainya.

Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Yang ketiga, Masalah akhirat yang akan menjadi tempat tinggal kita selama-lamanya. Terkait masalah akhirat ini hanya ada dua kata: Ikhlaskan niat kita hanya karena Allah dalam semua kata dan amal ibadah yang kita lakukan, dan lakukan amal shaleh sebanyak mungkin yang dapat kita lakukan.
Untuk itu, hidup kita harus berorientasi akhirat dan jangan sampai kita lebih mencintai dunia ketimbang akhirat, karena dunia semua isinya akan musnah, termasuk jasad kita sendiri, sedangkan akhirat adalah kekal abadi. Di samping itu, jadikanlah sukses akhirat sebagai standar kesuksesan yang hakiki.
Allah SWT menjelaskan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (آل عمران : 185)
 “Semua yang bernyawa pasti mati. Nanti pada hari kiamat (akhirat) akan disempurnakan pahala kalian. Siapa yang dijauhkan (pada hari itu) dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh dialah yang sukses. Dan tidak adalah kehidupan dunia ini melainkan kenikmatan yang menipu”. (Ali-Imran: 185)

Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Mari kita syukuri nikmat umur yang telah Allah anugerahkan kepada kita sehingga kita dapat menghirup udara segar di tahun ini dengan melakukan Muhasabatun nafsi. Semoga Allah bantu kita, dan mudahkan kita dalam melakukan upaya meningkatkan kualitas dien, dunia dan akhirat kita, amin.
Selain Muhasabtun Nafsi, Perbanyak bergaul dengan Ulama yang selalu mengajak kita untuk menigkatkan rasa takwa kepada Allah SWT. sehingga kita terhindar dari perbuatan yang mubazir. Karena dalam kitab suci Al Quran sudah jelas disampaikan kepada kita bahwa Allah membenci orang yang berlebihan dan mubazir.
Boleh saja kita ungkapkan rasa syukur kita terhadap pergantian tahun ini dengan membakar ayam dan berkumpul bersama teman-teman, tapi lakukan dengan lebih yang dilegalkan ajaran Islam, jangan sampai terjebak ke cara sesat yang berujung ke maksiat. Lakukan dengan penuh rasa syukur misalnya dengan bakar ayam bersama anak yatim, pengajian remaja di masjid dan sebagainya. Ini jauh lebih baik dari pada menonton aksi-aksi syirik dan kemaksiatan yang dilakukan kaum bukan Islam dalam menyambut tahun baru ini.

Dengan khutbah singkat ini, semoga kita dan anak-anak kita bisa paham bagaimana memaknai Tahun Baru Masehi. Memang perhitungan tanggal Masehi milik semua umat, baik Kristen, Hindu, Budha, maupun Islam. Jadi, berbeda agama berbeda pula cara pandangnya dalam menyambut datangnya Tahun Baru Masehi. Ada yang mengungkapkan dengan meniup terompet, kembang api, pasang tanduk seperti syetan di kepalanya yang berkerlap kerlip, bakar ayam, pesta dengan minum minuman khomar, dan lainnya. Dalam perbedaan inilah kita dan anak muda mudi kita di tuntut untuk lebih selektif dalam memaknai penyambutan tahun baru.
Dan akhirnya semoga Allah Swt selalu membimbing kita kejalan yang benar, Amiin. ya Robbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net